Cerpen | Sebait Rindu Indonesia

Amir Rachman. Lelaki yang sudah sepuh itu terlihat lama mematung di pinggir jendela. Kakek tua itu bahkan sama sekali tidak terusik dengan aktivitas cucu dan cicitnya yang berlarian kesana kemari. Matanya yang sudah mulai rabun terus menatap kosong ke arah pekarangan rumah. Entah apa yang dipikirkannya.

Sudah 70 tahun lebih kakek tua itu tak mencium aroma tanah basah, seperti aroma yang keluar saat hujan pertama di bulan September turun menyirami pesawahan. Amir bahkan sudah melupakan aroma itu. Tapi diusianya saat ini yang telah menginjak 97 tahun, ia kembali mencium aroma itu.

Lelaki itu memanggil salah satu cucunya. Meminta untuk mendorongkan kursi roda ke bagian depan rumah. Salju mulai turun. Kakek itu senang melihat salju yang turun dari depan rumahnya. Amir memejamkan mata. Ia sudah mulai lupa kapan terakhir kali melihat salju pertama dari depan rumahnya.

Tiap kali awal musim dingin, ia selalu melewatkan moment turunnya salju pertama. Ia selalu sibuk di kantornya. Ada saja yang dikerjakannya saat itu. Setelah pensiun, lelaki itu memang banyak menghabiskan waktu di rumah bersama istri dan empat anaknya. Tapi tak banyak moment melihat salju pertama yang ia dapatkan.

Amir bahkan tak lagi mau melihat salju pertama setelah kehilangan istrinya. lelaki itu menjadi lebih pendiam dan tertutup setelah istrinya wafat. Saat itu usianya menginjak 82 tahun. Istrinya sendiri lebih muda lima tahun dari lelaki itu. Tetapi tumor ganas telah merenggut wanita itu darinya, tepat dihari pertama salju mulai turun.

Amir bergeser pelan mendekati daun pintu. Diraihnya pinggiran pintu itu dengan jemarinya yang sudah keriput. Lelaki itu beberapa kali memanggil nama David, putra bungsunya yang tinggal masih satu rumah. David segera menghampiri Amir setelah dipanggil salah satu cucu kakek tua itu.

“Papa ingin pulang ke Indonesia. Papa kangen sawah. Papa kangen sungai. Papa kangen sama hujan di sana,” lelaki itu berbisik di telinga anaknya. Suaranya hampir tidak terdengar. David hanya bisa mengangguk. Sementara cucu dan cicit kakek tua itu lainnya saling berpandangan tak mengerti. David mengusap pundak Amir. Segera ia cium kening ayahnya itu.

David menghubungi kakak sulungnya lewat telepon selular. Tak lama kemudian dua kakaknya yang lain datang menghampiri. Kebetulan hari itu semua anak Amir tengah berada di rumah. Hanya anak pertama yang masih dalam perjalanan dari Liechtenstein.

“Papa bilang ingin pulang ke Indonesia. Dia kangen kampung halaman,” ujar David pada dua kakaknya. Mirna, anak Amir nomor dua langsung membawa kakek tua itu ke dalam ruangan. Di luar, angin berhembus sangat dingin. Mungkin segelas coklat hangat bisa menenangkan perasaan ayahnya itu.

David masih berada di dekat daun pintu. Ia resah menanti kedatangan Wahid, kakaknya yang tertua. Di sebelahnya, Ridwan, anak Amir nomor tiga, juga merasakan resah yang sama. David kemudian memanggil istrinya, Laura. Meminta untuk membereskan rumah. Ia mulai mendapat firasat.

Di dalam, alat penghangat ruangan nyatanya tidak bisa menghangatkan Amir dari rindunya akan Indonesia yang kian membeku. Lelaki renta itu bahkan mulai mencium wewangian rempah-rempah khas Indonesia. Amir ingat Laksa Betawi, Rendang, Gudeg, Pempek, Nasi Liwet Solo, Bakwan Malang hingga bakso sapi pinggir jalan yang sering dibelinya saat kecil dulu.

Sudah lama Amir tidak merasakan itu semua. Kalaupun ada, paling-paling ia menemukan di KBRI atau pada saat ada event International Day di beberapa tempat. Biasanya KBRI akan membuka stand kuliner memperkenalkan kuliner khas Indonesia. Tapi bagi Amir, rasanya jauh berbeda. Ia lebih suka makanan pinggir jalan di kampungnya dulu.

Amir meninggalkan Indonesia pada saat usianya beranjak 23 tahun. Saat itu ia kuliah di Kastanienbaum, Luzern, kemudian bekerja di sana. Ia lantas menikah dengan wanita Swiss keturunan Indonesia dan menetap di Bern. Amir tak pernah pulang kampung. Sewaktu muda, ia malas kembali ke Indonesia.

Saat itu Amir merasa, negara yang dicintanya telah kacau balau. Koruptor merajalela. Kabarnya kondisi ekonomi di negara itu juga tidak sehat. Beberapa kali ia berkesempatan pulang, tapi ia lewatkan. Bagi perantau yang mulai hidup tercukupi seperti dirinya, teramat berat untuk bisa membayangkan kembali hidup di Indonesia. Ia terlalu takut untuk kembali ke kampung halamannya.

“Papa ingin pulang ke Indonesia. Bagaimana ini mas,” ujar David pada Wahid, kakaknya yang paling tua. Wahid, istri dan anak-anaknya baru tiba dari Liechtenstein. Segera Wahid mencium tangan ayahnya. Ia melihat ke arah adik-adiknya. Wahid terlihat mulai kebingungan.

Tidak ada satupun diantara mereka yang pernah ke Indonesia. Sejak Wahid lahir, Amir mengganti kewarganegaraan. Anak-anak Amir hanya mengetahui Indonesia dari cerita-cerita ayahnya. Mereka pantas merasa bingung jika kemudian Amir meminta untuk diantar ke Indonesia. Wahid dan adik-adiknya sama sekali buta akan Indonesia.

Amir menarik napas panjang. Anak dan cucu serta cicitnya sudah berkumpul. Lelaki renta itu mulai tersenyum sendiri. Mata tuanya berkaca-kaca. Ia ingat dulu pernah ikut lomba lari balap karung dan lomba makan kerupuk saat 17 Agustusan. Amir tersenyum makin lebar. Ia ingat betul bagaimana caranya main gaple seperti saat di pos kamling dulu. Ia juga ingat bagaimana rasanya memakan mangga mentah yang dicurinya dari kebun orang. Masa kecil itu kembali datang dan melekat erat di usianya yang kini sudah senja.

Suara lonceng gereja di seberang jalan, siang itu terdengar nyaring di telinga Amir. Lelaki renta itu mulai menangis. Rasa kangen dan rindu Indonesia kian menggebu. Ia ingat lirik lagu karangan Ibu Sud. Lirik lagu itu benar. Tanah air tercinta tidak akan pernah hilang dari kalbu. Amir menarik napas panjang. Ia ingin mati dan dikuburkan di tanah Indonesia. (*)

Bandung, penghujung Agustus 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *