Cerpen | Menapak Langit Merah

Petang itu, langit mendung kelabu. Gerimis turun membasahi. Sementara matahari sudah meninggalkan jejaknya di ujung langit sebelah barat. Dua lelaki bertubuh kurus, Sirad dan keponakannya, tengah berada di sungai tepat di bawah jembatan. Sorot mata dua lelaki itu tak pernah lepas memandang ke atas jembatan.

Mereka bersembunyi dengan cara berendam di sungai, persis di bawah jembatan. Sirad meminta keponakannya untuk ikut masuk sungai, ikut terkubur lumpur dan  menunduk di sela-sela eceng gondok dan sampah rerumputan yang terapung di sungai. Ia tak mau ambil resiko. Kedua lelaki itu terlihat sangat ketakutan.

Tiga regu pasukan bersenjata lengkap, berada tepat di atas kepala mereka. Para tentara ini dibawa dengan menggunakan tiga kendaraan besar yang juga dilengkapi peralatan tempur. Sirad dan pemuda di sebelahnya terlihat gemetaran. Mereka berharap gelapnya malam mampu menyelamatkan nyawa mereka.

Sudah setengah jam, Sirad dan pemuda itu berada di sungai dengan kepala menunduk. Hanya bagian hidung ke atas yang masih di atas permukaan air. Seluruh tubuh mereka sengaja ditenggelamkan. Mereka sama sekali tidak bergerak. Tapi hembusan angin sore membuat tubuh mereka kini mulai bergetar hebat menahan hawa dingin. Apalagi gerimis belum juga berhenti.

Air sungai yang membasahi tubuh mereka terasa semakin dingin menusuk. Membuat gigi ikut gemetaran saling beradu satu sama lain. Beruntung suara jangkrik, katak dan hewan malam lainnya menyamarkan suara gemetaran kedua lelaki itu. Para tentara itu cukup lama berada di atas jembatan.

Sirad melirik ke arah pemuda di sebelahnya. Sorot matanya meminta pemuda itu untuk bersabar lebih lama. Para tentara kolonial ini bisa dengan mudah menghabisi nyawa mereka. Sirad perlahan menggerakan kakinya. Mengangkat kaki kanannya dari himpitan lumpur. Betisnya terasa gatal. Ia ingin menggaruknya dengan cepat. Tapi segera ia urungkan.

Seorang tentara kolonial, badannya tegap, tinggi menjulang, tiba-tiba sudah berada tak jauh dari tempt mereka bersembunyi. Mata tentara itu tajam menyapu sekeliling. Sirad dan keponakannya semakin menunduk. Berharap tentara itu tidak menyadari keberadaan mereka.

Tentara itu berbicara dan berteriak ke arah teman-temannya. Entah apa yang diucapkannya. Beberapa tentara membalas teriakan itu dengan tertawa dan lemparan kerikil ke arah tentara yang sedang kencing di dekat dua orang itu bersembunyi. Sirad sama sekali tak mengerti ucapan tentara itu. Lelaki kurus itu tidak pernah sekolah. Tidak mengerti baca tulis apalagi mengerti bahasa asing.

Setelah lebih satu jam, Sirad dan keponakannya akhirnya bisa keluar dari persembunyian. Rombongan tentara penjajah sudah bergerak. Mereka tidak mengetahui Sirad bersembunyi di bawah jembatan. Tapi Sirad belum tenang. Tentara-tentara itu tengah bergerak menuju desa mereka. Sekilas terbayang wajah istri dan anak Sirad yang berada di rumah. Ia menjadi sangat khawatir.

Sirad adalah seorang saudagar, pedagang yang baru pulang berdagang dari desa sebelah. Mereka awalnya berjalan konvoi menggunakan pedati-pedati yang ditarik kerbau. Tapi di persimpangan jalan dekat perbatasan, Sirad dan keponakannya memisahkan diri dari rombongan.

Saat melewati daerah pinggiran sungai, Sirad mendengar deru kendaraan menuju ke arahnya. Ia tahu betul itu kendaraan milik tentara penjajah. Dengan segera ia menurunkan seluruh barang dagangannya. Menyembunyikan di semak-semak, rumput tinggi ataupun di balik bebatuan. Melepaskan ikatan kerbaunya dan menyembunyikan gerobak pedati. Ia dan keponakannya lantas bersembunyi di bawah jembatan.

Setelah suara kendaraan tak lagi terdengar, Sirad dan keponakannya kembali mengumpulkan barang-barang dagangannya. Sirad menyuruh pemuda di sebelahnya berjaga-jaga di pinggir jalan untuk memastikan keadaan. Sirad bergegas mengumpulkan barang. mencari kerbaunya yang sempat dilepas. Ia harus cepat-cepat pulang.

Tentara penjajah itu pasti akan menyisir masuk rumah-rumah penduduk. Mereka beralasan tengah mencari para pejuang gerilyawan anak buah Soekarno dan teman-temannya. Tapi Sirad mengerti, itu hanya alasan. Tentara-tentara itu hanya mencari kesenangan. Mereka menjarah apa yang ada. Membunuh siapapun yang mereka mau. Merampas harta benda. Menculik dan memperkosa anak gadis penduduk.

Sirad menahan napas membayangkan itu semua. Ia menjadi sangat khawatir dengan keselamatan istri dan anaknya di rumah. Sirad terdiam. Ia tak bisa berbuat apapun saat ini. Sirad pun meneteskan air mata. Langit gelap tak berbintang. Ia berharap Tuhan menyelamatkan istri dan anaknya.

Setengah jam kemudian, Sirad dan keponakannya sudah berada di atas pedati. Mereka berjalan pulang dengan perasaan tak karuan. Sirad menoleh ke arah pemuda di belakangnya. Pemuda itu masih berduka. Siang tadi bapaknya diberondong senapan tentara penjajah. Sirad ikut bersedih. Bapak pemuda itu tak lain kakak Sirad sendiri. Mereka tak bisa berbuat apapun. Mereka bahkan tak sempat menguburkan mayat lelaki itu.

Malam semakin gelap. Angin yang berhembus semakin membuat Sirad dan pemuda di belakangnya kedinginan. Pakaian mereka masih basah kuyup. Roda pedati terus berputar dalam sunyi. Sirad sengaja mencopot kalung lonceng kerbaunya agar tidak menimbulkan suara. Mereka tengah berjalan pulang dengan hati berdebar.

Sirad memang mendengar, pejuang republik yang melawan para penjajah itu telah berupaya mengusir mereka dari tanah air. Tapi nyatanya, keberadaan tentara-tentara asing itu masih meresahkan. Apalagi kabarnya, Soekarno sedang diasingkan keluar jawa. Sirad memegang jidatnya. Ia pusing tujuh keliling.

Dua hari lalu, Maryam, adik iparnya tewas terkena peluru saat bekerja di sawah. Sebuah pesawat yang terbang rendah menghujani daratan dengan peluru. Para petani yang bekerja di sawah menjadi korban. Ada yang bahkan tewas di tempat. Maryam sendiri tertembak di betis kirinya. Perempuan itu akhirnya tidak tertolong karena kehabisan darah. Tidak ada mantri ataupun dukun yang bisa menolong.

Sirad masih bermain dengan pikirannya sendiri. Kapan negeri ini bisa benar-benar aman dan para penjajah itu tak lagi berbuat brutal. Sirad terus merenungi keadaan. Tapi pemuda di belakangnya tiba-tiba menepuk bahunya dengan keras. Sirad kaget bukan kepalang. Bola matanya lantas mengikuti arah yang ditunjukan keponakannya.

Sirad menahan napas. Dari jauh langit di sebelah utara mulai terlihat kemerahan. Tepat di atas desanya, Sirad melihat cahaya merah berpendar. Ia bisa merasakan sesuatu yang tidak beres tengah terjadi. Segera ia ambil cemeti. Menggerakan kerbaunya agar lebih cepat berjalan.

Malam temaram masih tanpa bintang. Sirad dan keponakannya masih di atas pedati yang melaju pelan. Tapi debaran jantung lelaki itu telah seribu kali lipat berdetak lebih cepat. Gurat-gurat cemas sangat kentara terlihat di wajahnya. Mata lelaki itu menangkap kobaran api telah menyelimuti desanya. Bunyi senapan terdengar berkali-kali. Sirad menangis tertahan. Lelaki itu teringat anak dan istrinya. (*)

Senayan 17 Agustus 2016

*Untuk mereka yang pernah merasakan hidup di era kegelapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *