Matahari belum sempurna tenggelam. Tapi petang itu angin berhembus sangat kencang. Menggoyangkan pepohonan yang berderet acak sepanjang jalanan tanah berbatu yang menjadi satu-satunya penghubung di desa itu. Sirad masih duduk di atas pedati saat gerimis tiba-tiba turun. Lelaki kurus tinggi itu dalam perjalanan pulang setelah berdagang ke desa tetangga.
Sirad menoleh ke belakang. Seorang pemuda, usianya sembilan tahun lebih muda dari Sirad, bergegas menutupi barang-barang yang ada di dalam pedati dengan karung dan beberapa lembar daun pisang ukuran besar. Sirad segera menghentikan laju pedati. Ia turun dan ikut merapikan barang dagangan.
Hari ini barang dagangan mereka masih tersisa banyak. Beberapa karung beras, jagung, dan sejumlah bahan makanan lain masih tersisa di atas pedati. Setelah banyak tentara asing masuk ke wilayah mereka, kondisi menjadi tak menentu. Banyak saudagar akhirnya gulung tikar akibat kondisi ekonomi yang makin memburuk.
Tak seberapa jauh dari tempat itu, tiga unit kendaraan besar, masing-masing membawa sedikitnya 20 personel tentara bersenjata lengkap tengah menuju desa tempat Sirad tinggal. Deru kendaraan yang berkonvoi sampai terdengar hingga tempat Sirad berhenti. Raut kecemasan segera membekap lelaki itu. Ia menoleh ke arah pemuda di sampingnya. Wajah pemuda itu sudah terlihat pucat pasi.
Sirad sudah banyak mendengar kebejatan tentara-tentara itu. Bahkan banyak saudagar sepertinya yang mengalami nasib apes saat berpapasan dengan para tentara itu. Mereka tak hanya merampas harta benda, tetapi juga tak segan menghabisi nyawa orang lain. Jika bisa menghindar, sebaiknya menghindar. Jangan sampai berurusan dengan orang-orang asing itu.
Sirad beberapa kali harus menelan ludah. Angin yang berhembus membawa suara bising deru kendaraan besar yang tengah menuju arah mereka berhenti. Segera ia perintahkan pemuda yang merupakan keponakannya itu menurunkan semua barang dagangan. Ia sendiri bergegas membuka ikatan si Ireng, kerbau yang menarik pedatinya.
Sirad mulai terlihat panik. Ia tergopoh memindahkan barang-barang dagangannya. Menyembunyikan di sembarang tempat, agar tidak terlihat dari jalanan. Beruntung, di sisi kanan kiri jalan, banyak rumput tinggi dan bebatuan besar yang bisa menjadi tempat untuk menyembunyikan barang-barang dagangan. Ia tak peduli jika gerimis membasahi barang dagangannya itu.
Sirad beberapa kali memerintahkan pemuda di sampingnya untuk bergerak lebih cepat. Ia tidak ingin seluruh hartanya ludes dijarah. Segera Sirad menuntun kerbaunya turun lebih jauh menuju rawa yang letaknya sedikit tersembunyi dari jalan. Ia lantas membuka seluruh temali yang melekat di kerbau itu. Diusapnya kepala si Ireng. “Jangan ke mana-mana. Kamu di sini saja. Nanti sulit cari kamu,” ujar Sirad kepada kerbaunya.
Daerah Sirad berhenti merupakan batas wilayah yang memisahkan dua desa berbeda. Tidak ada penduduk yang tinggal di sekitar situ. Di sisi kanan jalan, selain pepohonan liar, daerah itu masih dipenuhi rawa. Banyak binatang buas yang konon masih berkeliaran bebas di kawasan itu. Sirad sudah ratusan kali melewati daerah itu. Ia sudah hafal betul wilayah itu.
Sementara di sisi kiri jalan merupakan pinggiran sungai. Tapi tidak mudah mencapai sungai dari jalan itu. Posisi sungai berada jauh di bawah. Mereka harus menuruni lembah curam berbatu untuk bisa menyentuh sungai. Belum lagi rumput dan ilalang setinggi dada yang tumbuh liar sangat menyulitkan untuk bisa melewati lembah itu.
Setelah yakin seluruh barang dagangannya tersembunyi dengan baik, Sirad mengajak keponakannya mendorong pedati. Ia sendiri berada di depan pedati, bergegas membawa dan menarik gerobak yang terbuat dari kayu itu berlari hingga belasan meter. Ia tak ingin gerobak pedatinya diketahui para tentara. Tentu mereka akan mencari barang jarahan ke segala arah jika mengetahui ada pedati di sekitar situ.
Keringat bercucuran dari wajah Sirad. Ia menoleh ke arah belakang. Pemuda yang mendorong pedati pun sudah terlihat kelelahan. Tiba-tiba angin menerbangkan suara letusan senjata, membawanya hingga ke telinga Sirad. Lelaki itu berhenti. Ia kemudian berbalik badan, melihat pemuda kurus itu dengan pandangan kaget.
Pemuda itu berdiri terpaku. Raut wajahnya sangat terlihat cemas. Sorot matanya seakan menyuguhkan banyak pertanyaan pada pamannya itu. Sirad pun ikut terpaku. Ia ingat Sardi, kakaknya masih berada di belakang. Sardi dan pedatinya belum terlihat menyusul. Mereka berhenti di perempatan jalan untuk menunggu pembayaran dari saudagar lain.
Para pedagang ini biasanya berjalan bersama, konvoi membawa dagangannya dengan pedati-pedati mereka. Sejak subuh, Sirad dan enam pedati lain, termasuk pedati milik Sardi telah meninggalkan desa sebelah untuk kembali ke desa mereka. Tapi di tengah jalan, mereka berpisah. Sirad meminta izin untuk lebih awal pulang. Sementara lima pedati lain masih menyelesaikan urusan dagang mereka.
Sirad dan keponakannya itu lantas berjalan lebih awal. Adapun Sardi dan para pedagang lain masih berhenti di perempatan jalan. Biasanya di tempat itu rombongan pedagang lain yang melintas akan saling tukar dagangan. Tidak hanya bahan makanan, tapi juga hewan ternak dan pakaian.
Sirad menarik napas berat. Lelaki itu lantas meminta keponakannya untuk tetap melanjutkan perjalanan. Mereka harus segera menemukan tempat persembunyian. Gerimis masih turun membasahi tanah. Sirad terus berlari menarik gerobak pedatinya. Ia melihat senja mulai hilang berganti gelap.
Suara letusan senapan kembali terdengar. Kali ini tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Sepintas Sirad melihat air mata mulai membasahi pipi pemuda yang ada di belakangnya. Di antara gerimis yang turun, pemuda itu terus menangis hisreris memanggil-manggil nama bapaknya. Sirad tetap berlari. Membawa pedati dan pemuda itu kian menjauh. (*)
Jagakarsa, 16 Agustus 2016